Kompleksnya ”Vitamin B Complex”* : kandungan, manfaat, serta interaksi

Kompleksnya ”Vitamin B Complex”* : kandungan, manfaat, serta interaksi

 

            Vitamin berasal dari dua kata yang disatukan yakni ”vital” dan ”amin”. Awal ditemukan, diketahui vitamin memiliki komponen amin ( di dalam strukturnya ada atom N atau nitrogen) yang berfungsi vital bagi tubuh. Sampai saat ini perkembangan vitamin telah sampai pada produk yang dikomersilkan. Maraknya produk multivitamin yang beredar memang sering membuat bingung memilih. Termasuk memilih merek vitamin B Kompleks yang bagus. Terkadang vitamin B kompleks tak hanya dikemas sebagai suplemen atau multivitamin tunggal, namun sering ditambahakan sebagai vitamin fortifikasi (tambahan) pada produk makanan seperti susu formula, sereal, dan berbagai makanan olahan lainnya. 

interaksi vitamin B Complex
Kompleksnya Vitamin B Complex

Sesuai namanya, vitamin B kompleks merupakan vitamin yang terdiri dari berbagai jenis vitamin B. Vitamin B kompleks tergolong vitamin tak larut lemak seperti halnya vitamin C. Secara lengkap, vitamin B kompleks terdiri : dari vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin/asam nikotinat), B5 (asam pantotenat), B6 (piridoksin), B7 (biotin), B9 (asam folat), hingga vitamin B12 (kobalamin). Namun jangan terkecoh, tidak semua produk berlabel vitamin B kompleks  mengandung vitamin B lengkap dari 1 sampai 12.

Selain dari produk multivitamin, secara alamiah vitamin B kompleks dapat diperoleh dari makanan terutama daging sapi, ayam, ikan, kacang-kacangan, telur, susu, keju, dan kedelai. Namun perlu diperhatikan bagi perokok serta Anda yang gemar mengkonsumsi minuman alkohol dan kafein, karena vitamin B kompleks akan menjadi mudah rusak akibat konsumsi bersamaa dengan rokok, kafein, dan alkohol. Penyerapan vitamin B kompleks juga akan berkurang bersamaan dengan penggunaan kontrasepsi oral atau terapi hormon.

Peran utama vitamin B kompleks di dalam tubuh yakni sebagai koenzim (bahan baku pembuatan enzim) dimana enzim-enzim tersebut memegang peranan pada berbagai reaksi metabolisme dalam tubuh. Secara spesifik masing-masing jenis vitamin B kompleks memegang peranan tertentu. Tiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin (vitamin B3), asam pantotenat (vitamin B5), dan biotin (vitamin B7) membantu proses pembentukan energi yang berasal dari karbohidrat, lemak, dan protein. Khusus riboflavin (vitamin B2) juga berfungsi dalam proses penglihatan. Sedangkan keutamaan piridoksin (vitamin B6) dalam tubuh sebagai koenzim yang berfungsi untuk transformasi asam amino dan membantu mensintesis asam amino nonesensial.

Sisanya, dua kandungan vitamin B kompleks dengan fungsi cukup beragam yakni kobalamain (vitamin B12) dan asam folat (vitamin B9). Kedua vitamin ini merupakan zat essensial yang berperan dalam pertumbuhan normal dan penggandaan sel manusia. Fungsi ini begitu penting bagi sel yang memiliki siklus hidup cepat, misalnya sel darah. Kekurangan kobalamain (vitamin B12) dan asam folat (vitamin B9) dapat menyebabkan anemia megaloblastik. Fungsi vitamin B Kompleks pada susunan saraf pusat,  yakni kobalamain (vitamin B12) dan asam folat (vitamin B9) membantu memelihara mielin yang berfungsi dalam transduksi sinyal saraf. Akibat kekurangan vitamin B9 dan B12 ini  pada orang lanjut usia (lansia) dapat mengalami percepatan gangguan mental misalnya penyakit pikun. Selain itu vitamin B12 dan asam folat juga berperan dalam pemecahan asam amino homosistein. Peemecahan asam amino homosistein ini berfungsi untuk mencegah kelebihan jumlahnya di dalam tubuh. Sebab asam amino homosistein dalam jumlah besar dalam tubuh bisa menimbulkan resiko lebih besar terhadap penyakit kardiovaskular.

            Kompleksitas vitamin B juga terletak pada interaksinya dengan berbagai obat. Bagi Anda atau orang terdekat Anda harus memperhatikan obat-obat lain yang dikonsumsi selain vitamin B kompleks. Misalnya Levodopa, obat untuk penyakit Parkinson ini akan menjadi inaktif karena adanya asam pantotenat (vitamin B5). Obat yang inaktif tentu saja tidak akan menghasilkan efek terapi. Sehingga obat levodopa tidak boleg dikonsumsi bersamaan dengan vitamin B kompleks yang mengandung Vitamin B5. Dalam kondisi epilepsi dan pemberian obat antikonvulsan (anti kejang) seperti sodium fenitoin dapat menyebabkan adanya interaksi dengan asam folat. Interkasi lain, yakni bagi pengidap diabetes yang sedang menjalankan terapi obat antidiabetes sebaiknya tidak mengkonsumsi niasin (vitamin B3) dalam jumlah besar karena niasin dapat memberi efek berlawanan dengan obat antidiabetes.

Interaksi antar vitamin juga dapat terjadi, contohnya keberadaan vitamin C dalam jumlah besar dapat merusak kobalamain (vitamin B12). Sementara Isoniazid/INH (obat TBC) dapat merusak niasin (vitamin B3). Sedangkan konsumsi vitamin B Komplek yang mengandung niasin (vitamin B6) terlalu banyak dapat menyebabkan sakit kepala, dan riboflavin (vitamin B2) dalam jumlah banyak menyebabkan warna urin menjadi amat kuning. Namun adakalanya asupan vitamin B kompleks perlu diperbanyak misalnya pada saat meminum obat antibiotik. Karena antibiotik dapat membunuh bakteri penghasil vitamin B kompleks pada saluran cerna sehingga jumlah vitamin B menurun.

Memilih untuk rutin mengkonsumsi vitamin tertentu sebaiknya tak hanya sekadar termakan iklan. Namun akan lebih baiknya mengetahui apa yang dibutuhkan tubuh, lalu memilih produk/suplemen sesuai kebutuhan. Apabila vitamin yang dibutuhkan sudah dapat terpenuhi dari makanan, maka mengkonsumsi vitamin atau suplemen tambahan rasanya hanya akan sia-sia malah cenderung membahayakan bagi tubuh.

 

*dimuat di Majalah Info Obat edisi September 2008


Post a Comment

2 Comments

  1. Halo Kak, salam kenal. Aku Devina. Aku sering dengar tentang Vitamin B Complex, namun pas baca tulisan kakak ternyata beneran segitu "complex-nya" vitamin ini hhhe. Mau nanya kak, emang benar kalau jari-jari tangan sering kaku atau kesemutan itu bisa karena kurang Vitamin B Complex? Makasih atas infonyaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Devina, salam kenal jg. Vitamin B Kompleks memang dikenal jg dgn vitamin 'saraf. Kalau kekurangan vitamin B Kompleks, maka akan mempengaruhi kerja saraf, terutama saraf perifer. Nah saraf perifer ini terutama bertanggung jawab terhadap gerakan refleks pada tangan dan kaki.

      Kekurangan vitamin b Kompleks memang bisa menyebabkan kaku dan kesemutan, namun tidak semua keadaan kaku atau kesemutan disebabkan oleh kekurangan vitamin B Kompleks.
      jadi kalau kamu sering merasa kaku dan kesemutan di tangan, tetap sebaiknya cek ke dokter dulu ya.

      Delete

thanks for your comment.

will be shown after moderation