Tempat Makan (Enak) di Samarinda #4* Rumah Makan D’Penyetz dan D’Cendol, Samarinda, Kalimantan Timur


Kalau mau makan keluar, selalu deretan pertanyaan di bawah ini  keluar dari mulut saya atau suami.
“Mau makan dimana kita?”
“Mau makan dimana malam ini?”
“Lah kamu mau makan apa? “
“ Terserah aja mau makan apa?”
“ Aduh bingung ni, mau makan dimana kita?”.

                Begitulah, karena kami sekeluarga termasuk sering makan di luar rumah.  Minimal seminggu ada 2-3 kali makan sekeluarga di luar rumah.  Karena saya emang gak punya asisten rumah tangga. Jadi kalau pengen istirahat atau sedang sibuk, berarti saya gak masak. Kalau saya g masak, pilihannya ya beli bungkus, pesan go-food, atau makan keluar. Pilihan-pilihan yang selalu saja membuat saya dan suami kebingungan. Bosan, eneg, jauh, ramai,  atau tidak sesuai budget. Itu adalah alasan kami menolak makan di suatu rumah makan.

Sedangkan yang jadi pertimbangan kami memilih makan langsung suatu restoran :
1.       Pertama,  selera atau sedang ingin makan apa saat itu?
2.        Lokasi rumah makan yang jauh atau tidak dari rumah
3.      Restoran/ Tempat makannya nyaman gak untuk makan sekeluarga dengan anak kecil/balita
4.       Biaya makan di restoran atau rumah makan sesuai budget.

Sementara di Samarinda, entah mengapa tak banyak restoran atau tempat makan yang memenuhi empat kriteria tersebut bagi kami. Apalagi sekarang banyak yang bermunculan itu restoran/rumah makan dengan menu korea yang langsung masak di tempat/BBQ. Kami jarang sekali makan di restoran dengan menu korea.  Alasan pertama, karena tak sesuai selera saya dan suami. Kedua, perlu kewaspaaan tingkat tinggi karena bawa bayi dan balita, sementara kami harus memasak sendiri makanannya di meja. Lengah sedikit saja, tangan anak bisa menyentuh pemanggang atau kompor yang sedang menyala.

D’Penyetz  & D’Cendol Samarinda

Jln. Gatot Subroto, Samarinda
Jln Abdul Wahab Syahranie No.23, Samarinda
Harga makanan dan minuman : 8K – 60K

                Nah, soal tempat makan favorit, diantara sekian rumah makan yang masuk list kami, adalah Restoran D’Penyetz n D’Cendol. Memang kebanyakan rumah makan/restoran yang masuk list langganan kami makan adalah restoran tipe frenchise ataupun cabang. Termasuk D’Penyetz and D’Cendol ini. Di Samarinda, rumah makan D’Penyetz and D’cendol ini memiliki dua cabang, yakni di Jalan Gatot Subroto dan di Jalan AW Sjahranie.

Spot untuk foto di D'Penyetz & D'Cendol Samarinda
Spot Foto do D'Penyetz & D'Cendol


                Pertama, soal rasa dan menu. Menu Rumah Makan D’Penyetz & D’Cendol ini banyak banget variasinya. Mulai dari bakso, seafood, nasi  goreng, segala jenis cendol, penyet-penyetan, mulai dari olahan ayam, bebek, hingga olahan Iga. Cocok kalau sebagai tempat makan  ramai seperti meeting, ulang tahun,  makan siang dengan rekan kerja, hingga makan bersama keluarga. Karena semakin banyak menu, tentu memudahkan untuk memilih makanan sesuai selera. Cocok juga untuk traktiran karena banyak menu lauk-pauk yang tetap bisa dishare. Favorit suami saya ayam-ayaman yang punya banyak variasi sambal, mulai sambal penyet hingga sambal rica-rica. Kalau saya sendiri menyukai olahan iga goreng dan nasi goreng khas D’Penyetz & D’Cendol.  Jangan lupa untuk memesan cendolnya yang punya banyak varian.  Favorit saya : Cendok Durian!.
                Selain menu yang bervariasi, rasa makanan di D’Penyetz & D’Cendol ini hampir tidak pernah mengecewakan. Hanya sekali saya pernah pesan bakso penyetnya yang rasanya biasa aja, tapi tetap bisa dimakan.
                Kecepatan pelayanan. kalau boleh saya kasih penilaian, akan saya kasih nilai Very good. Kecepatan pelayanannya sangat cepat. Sepertinya rumah makan ini punya SOP mengenai waktu maksimal penyiapan makanan sejak dipesan.
                Ruangan dan desain interior. Ruangan cukup cozy, berAC, ada baby chair, toilet bersih, meja dan kursi banyak, sehingga kalaupun sedang peak hour, tetap dapat tempat duduk dan meja, juga tersedia musholla. Biasanya di bulan ramadhan, D’Penyetz & D’Cendol ini selalu full reserved.
                Parkiran.  Area parkirannya tergolong sempit, dibandingkan dengan kapasitas kursi dan meja tempat makan. Apalagi saat peak hour, seperti lunch time atau dinner time, parkiran hampir selalu penuh.
               
disclaimer  : postingan ini tidak berbayar. Murni pengalaman pribadi penulis. Tanda # pada judul hanya menunjukkan urutanpostingan, bukan peringkat rumah makan di Kota Samarinda.

Samarinda,  November 2019.

0 comments:

Post a Comment

thanks for your comment.

will be shown after moderation

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
www.ericstrins.com . Powered by Blogger.