Terapi Perilaku dan Terapi Biologis Pada Anak Autis


Tulisan lama saya di Majalah Info Obat, ketimbang dibuang sayang, ya lebih baik diposting di blog. Mudah-mudahan masih relevan dan bermanfaat.

Terapi Pada Anak Autis


            Sejak tahun 1990-an terjadi peningkatan jumlah anak-anak penderita autis dari tahun ke tahun. Jangan buru-buru putus asa jika keluarga atau kerabat Anda didiagnosa menderita gangguan autis. Ketika diagnosis ditegakkan pastikan bahwa terduga penderita autis telah melewati serangkaian pemeriksaan. Gejala autisme sangat beragam tergantung dari tipe autisnya sendiri dan seringkali tidak sama antar individu dengan individu lainnya. Penegakan diagnosa yang tepat akan sangat membantu anak autis menerima terapi yang efektif dan tepat pula. Berikut serangkaian terapi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi dan kualitas hidup penderita gangguan autis.


terapi autis terdiri dari terapi biologi dan terapi behavioural
Picture source


Terapi Pada Sistem Biologi (Biological treatmen)

Biological treatment merupakan terapi pada sistem biologis/tubuh meliputi diet makanan dan obat-obatan tertentu pada penderita autis. Beberapa penelitian menunjukkan ada kaitan antara diet makanan dengan kondisi autis. Alergi pada makanan tertentu dapat mengganggu fungsi otak sehingga dapat memperberat gejala autis. Beberapa senyawa pada makanan yang dilaporkan agar dihindari penderita autis yaitu gluten (suatu protein yang dijumpai pada makanan yang terbuat dari gandum) dan kasein (protein susu hewani).
Penyakit Autis masih merupakan grey area dalam dunia kedokteran karena penyebab dan mekanisme autisme belum diketahui secara pasti. Oleh sebab itu sampai saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan autis. Obat-obat yang diberikan pada penderita autis merupakan obat simptomatis atau obat yang berfungsi mengurangi gejala dan prilaku tertentu misalnya hiperaktif, agresif, dsb.
Hampir dua puluh persen penderita autis mengalami kejang. Obat golongan antikonvulsant/antikejang bisa digunakan untuk meredakan gejalan kejang pada penderita autis. Misalnya: gabapentin, fenitoin, karbamazepin, dan natrium valproat. Penderita autis yang mengalami gejala agresif dan gelisah sampai mengganggu tidur di siang maupun malam hari diobati dengan obat penenang, seperti klorpromazin, haloperidol (tidak diberikan pada anak usia kurang dari 3 tahun), diazepam, dan alprazolam, untuk meringankan gejala tersebut. Sedangkan obat berisi kandungan amitriptilin, buspiron, metilfenidat, atau risperidon biasa diberikan pada penderita autis yang cenderung tidak bisa diam (hiperaktif) dan kadang bersikap impulsif seperti banyak bicara dan tertawa berlebih-lebihan.
Sebagian besar obat untuk terapi biologi pada penderita autis merupakan golongan psikotropika dan kerap digunakan untuk pengobatan gangguan psikis lainnya. Baik dosis maupun frekuensi pemakaian harus di bawah pengawasan dokter. Apalagi risiko dan efek samping pemakaian obat psikotropika tergolong cukup berbahaya, terutama jika penderita autis adalah balita atau anak-anak. Namun, adakalanya prilaku anak autis tidak mengganggu lingkungan di sekitarnya, sehingga tidak memerlukan pengobatan menggunakan obat golongan psikotropika.

Terapi perilaku (behavioral treatment)

Behavioral treatment sangat berpengaruh pada perkembangan anak autis lebih lanjut. Tidak semua anak autisme mengalami gangguan komunikasi, interaksi, ataupun perilaku. Pada penderita atau anak yang masih tergolong autis ringan atau sedang umumnya hanya mengalami salah satu gangguan tersebut. Segala tindakan/intervensi pun disesuaikan dengan kekurangan yang dialami penderita autis dan semakin dini intervensi atau terapi perilaku dilakukan akan semakin baik.

Seringkali anak autis sulit untuk diajak berkomunikasi dua arah. Kemampuan berkomunikasi dapat dilatih melalui language therapy (terapi wicara). Tak hanya secara oral, komunikasi pada penderita autis bisa juga dilakukan dengan bahasa isyarat, menggunakan gambar, dan berbagai pendukung komunikasi lainnya. Terkadang anak autis ada yang mengalami gangguan pendengaran, bisa terlalu sensitif sehingga suara sekecil apapun dapat terdengar keras atau malah sebaliknya. Sehingga semakin menyulitkan penderita autis untuk melakukan komunikasi dua arah. Kondisi gangguan pendengaran pada anak autis dapat diperbaiki dengan audithory therapy (terapi pendengaran).
Dalam interaksi dengan lingkungan sekitarnya, penderita autis cenderung menarik diri dan bersikap tak acuh. Terapi sensori terintegrasi dan terapi okupasi dapat dilakukan untuk memperbaiki interaksi lingkungan penderita autis. Terapi Okupasi dan Terapi Sensori Terintegrasi akan meningkatkan kemampuan sensorik, adaptasi, dan mengontrol emosi. Sayangnya terapi ini relatif mahal dan masih terbatas di kota-kota besar.
Terapi prilaku umumnya bertujuan melatih anak autis paham terhadap instruksi, dapat melakukan kontak mata, memahami konsep, dan dapat menginisiasi anak autis untuk bicara. Caranya dengan membuat anak penderita autis melakukan berbagai kegiatan seperti latihan untuk menyusun puzzle dan piramid, bermain game komputer, mengambil suatu benda, jalan-jalan naik motor atau sepeda ataupun kegiatan lain sesuai kesukaan si anak. Yang jelas terapi ini harus dilakukan dengan konsisten misalnya setiap hari satu sampai dua jam.
Beberapa bulan yang lalu diluncurkan sebuah film India produksi Hollywood yang cukup booming berjudul ”Myname is Khan”. Film tersebut menceritakan kehidupan si Khan, seorang penderita Sindrom Asperger, sebuah sindrom yang masih termasuk spektrum gangguan autis/autism spectrum disorder. Sebagai penderita autis, kehidupan sosial si Khan tergolong bagus. Ia dapat berkeluarga dan bekerja meski tidak pernah menerima terapi medis apapun. Khan dapat berkembang baik tak lepas dari peran penting sang ibu dalam mendidik, berinteraksi, dan berkomunikasi baik secara oral, gambar, tulisan, maupun fisik. Misalnya sang ibu selalu memeluk Khan saat ia menunjukkan perilaku agresif, stress, atau marah.
Autis memang bukan sebuah kutukan atau aib. Perhatian dan dukungan orangtua maupun orang-orang di sekitarnya akan sangat membantu penderita autis dalam mengatasi kekurangannya dan dapat hidup normal.


Post a Comment

1 Comments

thanks for your comment.

will be shown after moderation