Berapa Biaya Persalinan di Samarinda ?


Satu hal yang terpikirkan saat akan melahirkan, atau mungkin ketika awal hamil, adalah :  berapa biaya melahirkan?.
Ada baiknya mencari referensi biaya, dokter, pelayanan rs, dan kelas yang diinginkan, sembari mempersiapkan tabungan dan menyesuaikan budget.
 Ya, setidaknya itu yang saya lakukan sebelum kelahiran anak pertama dan kedua.  Sebab saya bukan NIa Ramadhani yang uangnya tak berdigit.
Well, posting ini sekedar berbagi informasi biaya melahirkan di rumah sakit di  Samarinda dan sekitarnya. Bisa jadi biayanya berbeda untuk daerah lain  Saya rangkum dari informasi yang saya miliki dan dari teman-teman di salah satu grup WA ibu-ibu.  Tentu saja,  Kawan bisa cek dan ricek kembali ke rumah sakit yang dimaksud untuk memastikan biaya tersebut.
Above all,  semoga Informasi ini membantu ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian.

RS Umum Daerah Abdul Wahab Syahranie ( RSUD AWS) Samarinda
Biaya melahirkan di Paviliun Sakura (kelas VIP) RSUD AWS :
Persalinan Normal :   8 -15 juta (tergantung  dokter yang menangani dan lamanya menginap)
Operasi section (SC) : 30 Juta - 35 juta.
Bisa menggunakan BPJS dengan selisih biayanya ditanggung pasien.

RS Hermina Samarinda  (phone: 0541 2090700)
Biaya  persalinan di RS Hermina Samarinda :  
Persalinan normal :  6 juta (kelas III), 9 juta (kelas II), 12 juta (kelas I), 19 juta – 21 juta ( VIP)
Operasi Sectio/ Caesar (SC)  : 15 juta (kelas III), 19 juta (kelas II),  24 juta (kelas I), 30-38 juta (VIP).
Bisa menggunakan BPJS dengan selisih biaya ditanggung pasien.

tarif bersalin di rs hermina samarinda
Tarif Bersalin di RS Hermina Samarinda


RSIA Thaha Bakrie Samarinda  (Phone : 081351149469)
Biaya Persalinan di RSIA Thaha Bakrie :
Persalinan Normal :  8 juta (kelas II) , 10 juta (kelas I) 11,5 juta (VIP)
Persalinan Operasi  Sectio (SC) :  16 juta (kelas III), 17 juta (kelas II), 20 juta (kelas I), dan 24 juta (VIP).

update Desemebr 2018 : RS Thaha Bakrie sudah tidak beroperasi lagi. Gak tahu apakah RS Thaha Bakrie ini akan dibuka lagi atau tutup selamanya.

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua dengan Operasi Caesar



Jadi, kelahiran anak kedua kali ini saya harus melalui operasi Caesar. Cukup unpredictable, mengingat selama kehamilan, dari awal hingga akhir, kondisi kehamilan saya bisa dikatakan baik-baik saja. Ketuban cukup, di usia kehamilan 32 minggu posisi kepala janin sudah berada di bawah, dan di  kehamilan 36 minggu, posisi kepala sudah masuk panggul, posisi placenta pun bagus dan tidak menghalangi jalan lahir, pertumbuhan bayi oke, dengan Berat badan sekitar 3 kg, BB yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Tapi ya, apa mau dikata. Manusia memang cuma bisa berencana. HPL anak kedua ini sekitar akhir Agustus atau awal September. Namun feeling saya mengatakan lebih cepat dari perkiraan. Dan feeling ibu memang yang paling mendekati kenyataan.

Tanggal 22 Agustus, tepat hari raya idul adha, subuh hari menjelang adzan subuh, saya merasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir. Memang semalaman rasanya perut saya mules kayak mau menstruasi Beberapa hari belakangan, lendir seperti keputihan juga semakin banyak. Cuma belum laporan ke suami, karena merasa masih jauh dan saya sedang di rumah mertua. 

Singkat cerita, subuh itu saya mendapati bercak darah sudah keluar. Alhasil bubar jalan rencana sholat Ied.  Saya lalu  buru-buru pulang ke rumah, ambil peralatan melahirkan, ke faskes 1 untuk minta rujukan, lalu ke rumah sakit.

Saya masih tenang-tenang saja, karena sakitnya masih bisa ditahan.  Cek di IGD RS (karena hari libur, polikliniknya tutup), ternyata masih bukaan 1-2. Dokter IGD konsul ke dokter obsgyn, dan saya disuruh pulang dulu.

Saya pulang ke rumah bersama suami, sementara Amni dititipkan di rumah mertua. Lebaran Idul Adha yang dilewati dengan santai sekaligus harap-harap cemas. Gak tahu kenapa, saya merasa saya cukup kelelahan. Sementara saya harus menyimpan cukup banyak energi, mengingat melahirkan membutuhkan kondisi prima.  Saya lebih banyarak tidur miring ke kiri ketimbang jalan-jalan. Malamnya, saya merasa ada cairan keluar yang bukan air seni.  Saya sudah curiga air yang keluar adalah air ketuban yang rembes. Tapi karena sudah malam, sakitnya juga belum nambah, yang kemungkinan pembukaannya juga belum nambah. Saya menunda, mending sekalian besok pagi saja ke rumah sakit.

Esoknya, 23 Agustus 2018, pukul 6 pagi, saya ke rumah sakit.  Dengan pede nya tas melahirkan malah gak dibawa, karena takut disuruh pulang lagi.
Sampai di RS, masuk IGD lagi, cek bukaan, sudah bukaan 2-3. Proses yang cukup lama, hampir 24 jam, Cuma nambah satu bukaan. Padahal katanya kalau anak kedua, proses lahirannya bisa lebih cepat. Perasaan saya sudah mulai gak enak. Ketakutan mengintai, entah itu di induksi atau operasi Caesar.

Mengingat melahirkan anak pertama dengan proses melahirkan normal tanpa induksi saja, rasa sakitnya membuat bergidik.
Saya bilang ke bidannya, kalau ada yang rembes. Setelah dicek dengan kertas lakmus, ternyata positif air ketuban. Sayangnya, dokter Anggit Nugroho, obsgyn langganan yang saya biasa kontrol sedang keluar kota, sehingga saya ditangani dokter obsgyn pengganti.

Saya diminta USG ulang oleh dokter yang bersangkutan, ternyata di beberapa bagian air ketuban sudah berkurang banyak. Di sini saya sedikit menyesal kenapa gak dari tadi malam saya ke rumah sakit. Lewat USG juga keliatan kalau anak saya terlilit tali pusar.

Jadi dengan kondisi ketuban yang sudah rembes dan berkurang banyak, masih pembukaan 2, posisi kepala janin posterior, dan saya punya riwayat asma yang tidak memungkinkan untuk diinduksi dini (induksi saat pembukaan masih kecil),  kemungkinan terburuknya ya operasi Caesar.
Tapi dokternya masih mau menunggu. Observasi lagi selama 4 jam, sambil cek terus denyut jantung dan gerakan bayi di CTG. Saya juga diharuskan bedrest total, bahkan tidak boleh ke kamar mandi, dan buang air hanya di pispot. Bedrest ini untuk mencegah air ketubannya rembes terus.

Observasi dilakukan di kamar bersalin. Saya masuk kamar bersalin sekitar pukul 10 pagi. Frekuensi dan durasi sakit tidak bertambah. Di sini saya mulai berdoa agar gelombang cinta itu datang. Sakit yang mebuat saya ketakutan dan bergidik itu agar segera datang. Gak apa-apa sakit, karena tentu lebih baik melahirkan secara normal ketimbang Operasi Caesar.

Hasil tes CTG menunjukkan kalau janin saya lebih banyak diam dan tidak banyak bergerak. Memang, setelah muncul bercak darah tanggal 22 Agustus kemarin, gerakan janin saya malah berkurang.
Tapi saya masih berdoa, 4 jam waktu yang cukup untuk menambah bukaan. Saya masih terus baring menghadap ke kiri, tanpa jalan-jalan. Dan semoga masih bisa melahirkan normal.

Pukul 2 siang, saya cek lagi bukaan. Ternyata masih sama, posisi mulut rahim masih jauh. Tes CTG lagi. Hasil CTG masih menunjukkan gerakan janin yang lebih banyak diam.  Bidannya kemudian menelpon dokter obsgyn. Saya sudah wanti-wanti akan di operasi. Benar saja, tak lama setelah menelpon dokter obsgyn, bidan menemui saya dan memanggil suami untuk meminta persetujuan dilakukan operasi.

Sebenarnya masih bisa menunggu, tapi resikonya cukup tinggi.  Gerakan bayi yang lebih banyak diam dan air ketuban yang semakin sedikit.  Apa mau dikata, no other choice.  Ini yang terbaik buat saya dan calon anak kami.  Kami setuju untuk operasi Caesar.  Bidan jaga kemudian menelpon lagi dokter obsgyn, dan memberitahu kalau operasi di jadwalkan pukul 17.00
Saya disuruh siap-siap. Ganti baju operasi, puasa, dan cukup rambut kemaluan. Pukul 16.00, saya didorong ke ruang operasi, tapi belum masuk kamar operasi. Sebelum operasi, sampel darah saya diambil lagi oleh petugas laboratorium. Kemudian ada sedikit briefing bergantian dari perawat OK, dokter anestesi,dan dokter obsgynnya mengenai operasi yang akan dilakukan, durasi, resiko, dsb kepada saya dan suami. 

Dokter obsgyn nya sampai bicara ke saya dan suami : “mudah-mudahan nanti sewaktu keluar, bayi nya langsung menangis ya pak bu”. 
Sebenarnya saya ingin suami ikut ke ruang operasi. Tapi sebelum saya masuk kamar operasi aja suami sudah menangis dan ketakutan.  Kalau masuk ruang operasi mungkin dia bisa pingsan.
Jadi ya sudah, tidak ada adegan foto memoto dan suami yang menamani istri seperti di kebanyakan video operasi Caesar.

Anak kedua Bhumi Airlanggga
Anak kedua kami : Bhumi Airlangga

Mendaftarkan Merek Langsung Di Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (DJHKI) Kemenkumham


Tulisan kali ini  mengenai  pengalaman saya mendaftarkan merek dagang di Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kemenkumham.  Pertama, pendaftaran merek lewat konsultan HKI, dan kedua kalinya mendaftarkan langsung di Kantor Wilayah Kemenkumham di Kalimantan Timur.

Jasa pendaftaran merek dagang sendiri sangat lumrah  ditemukan di dunia maya. Kisaran harganya bervariasi, mulai dari 3.000.000- 3.500.000 rupiah.

contoh form pendaftaran merek
Contoh form pendaftaran merek halaman 1 dan 2


Pengalaman saya sendiri, pertama kali mendaftarkan merek dagang menggunakan jasa konsultan HKI dengan biaya 3 juta rupiah.  Biaya ini all in ya, termasuk biaya pendaftaran dan jasa konsultannya. Saya tahu beres. 
Yang perlu saya siapkan hanya merek, logo,  kelas pendaftaran barang, NPWP badan usaha atau pribadi, tergantung mau didaftarkan atas nama pribadi atau badan usaha, foto KTP, dan kalau mendaftarkan atas nama badan usaha, maka perlu ditambahkan dokumen lain seperti akte pendirian badan usaha dan stempel. Semua kelengkapan persyaratan ini bisa dalam bentuk softfile. Proses pendaftaran merek lewat konsultan HAKI ini cukup cepat, gak sampai 3 hari.

Waktu itu, saya memang gak punya clue apa-apa soal bagaimana cara pendaftaran merek  dagang. Pernah sekali waktu saya berkunjung ke web Dirjen HKI. Ternyata yang bisa memiliki login untuk pendaftaran merek dagang secara online hanya konsultan HKI yang sudah terdaftar. 

Berhubung posisi saya di luar Pulau Jawa, cara yang paling mudah dan murah ya lewat konsultan (yang ternyata di kemudian hari saya sadari lebih mudah dan murah mendaftarkan sendiri langsung ke DJ HKI).

Setelah merek dagang didaftarkan, sertifikat pendaftaran merek dagang baru akan keluar paling cepat satu tahun, tentunya  setelah melalui beberapa tahap. Namun, yang saya butuhkan saat itu adalah bukti pendaftaran merek dagang tersebut di Dirjen HKI.

Sayangnya, beberapa bulan kemudian, karena kecerobohan saya tidak melakukan penelusuran merek terlebih dahulu, saya mendapat kiriman surat dari Kemenkumham bahwa merek dagang yang saya daftarkan mendapatkan bantahan dari salah satu merek yang sudah terdaftar duluan.

Awalnya, saya berkonsultasi lagi dengan konsultan yang membantu mendaftarkan merek, eh malah saya ditawarin lawyers untuk mengajukan bantahan dan tentu saja proposal biaya menggunakan lawyer tersebut. Tak habis akal, saya cari second opinion, dan pergi ke kantor perwakilan kemenkumham Kalimantan Timur, dan berkonsultasi dengan staf di sana.

Jadi pada prinsipnya, merek itu tidak boleh sama persis, atau tidak boleh sama pada pokoknya. Jadi meskipun merek saya dan merek yang membantah saya itu tidak sama persis, tapi ada pokok yang sama. Kalaupun saya mengjukan bantahan, prosesnya akan panjang, uang yang saya keluarkan lebih banyak, dan kelangsungan usaha saya akan tersendat karena sengketa merek dagang ini.
Saran dari staf Kemenkumham, bikin merek baru, dan daftarkan lagi.

Maka saya putuskan untuk mengajukan pendaftaran merek baru., yang berarti kalau lewat konsultan, harus mengeluarkan kocek sebesar 3 juta rupiah lagi. Jumlah yang harus saya perhitungkan lagi, mengingat kelas usaha saya masih kelas UMKM yang modal dan perputaran uangnya terbatas.

Kali ini, saya putuskan untuk mengurus sendiri pendaftaran merek dagang ke Dirjen HKI. 

Lalu, apakah saya harus langsung datang ke Dirjen HKI di Jakarta?.
Well, ternyata saya bisa mendaftarkan merek dagang di Kantor Wilayah (Kanwil)  Kemenkumham yang ada di tiap provinsi di Indonesia.

Bagaiman proses pendaftaran merek dagang di Dirjen HKI?.

Mengenal Seluk Beluk Maklon (Toll Manufacturing) Produk Kosmetik di Indonesia


Bisnis kosmetik belakangan memang sedang gemuk-gemuknya. Entah itu untuk produsen, distributor, importir, retailer, atau klinik kecantikan.

Nah, sekarang  saya mau cerita sedikit soal bisnis kosmetik terutama untuk produk-produk maklon dan syarat-syarat maklon kosmetik.

Kira-kira setahun yang lalu, tak sengaja saya menonton tayangan infotainment yang tengah meliput Ashanti yang sedang mengunjungi pabrik kosmetik miliknya. Yap, Ashanti memang memiliki brand kosmetik tapi saya agak meragukan kalau pabrik itu juga miliki Ashanti. Kemungkinan sih, kerjasama dengan pabrik maklon kosmetik.

Jadwal pelayanan notifikasi kosmetika online system
Jadwal pelayanan notifikasi kosmetika online system - source: notifkos.pom.go.id


Jadi, yang perlu kita bedakan, antara pabrik dan brand/merek dagang. Tidak semua brand kosmetik punya pabrik sendiri. Dan bisa saja, sebuah pabrik memproduksi berbagai macam brand/merek dagang kosmetik pesanan orang lain. Proses pembuatan kosmetik di pabrik tertentu ini yang kemudian diberi brand sesuai keinginan si pemesan inilah yang disebut dengan maklon (toll manufacturing). Makanya, belakangan di pasaran ada banyak sekali brand kosmetik lokal.

Lalu, apa saja syarat toll manufacturing/ maklon kosmetik di Indonesia?

Persyaratan  maklon kosmetik  tentu saja jauh lebih sederhana,  ketimbang mendirikan sebuah pabrik baik dalam hal kerepotan perijinan maupun permodalan. Biaya maklon kosmetik bisa berkisar antara puluhan hingga ratusan juta. Jauh lebih murah ketimbang mendirikan pabrik kosmetik yang butuh biaya hingga milyarann rupiah

 Syarat utama maklon kosmetik, diantaranya :

1.        Memiliki Badan Usaha (minimal CV), termasuk semua kelengkapan dokumen suatu badan usaha seperti : SIUP, SITU, dan akta pendirian badan usaha.
2.       Memiliki merek yang sudah didaftarkan di Dirjen HAKI Kemenkumham.
3.       Kerjasama antara pemegang merek dan pabrik maklon kosmetik yang akan memprodusi produk yang akan Kawan jual.
As simple as it is. Analoginya, Kawan pesan baju di tukang jahit lalu baju yang sudah jadi itu Kawan beri label sendiri.


Alur pendaftaran badan usaha untuk login notifikasi kosmetik. Source: notifkos.pom.go.id
Alur pendaftaran badan usaha untuk login notifikasi kosmetik. Source: notifkos.pom.go.id


Sebenarnya , maklon kosmetik ini tidak terbatas pada pembuatan kosmetik merek lokal. Dimana proses produksi mulai dari pengembangan produk sampai pada packaging produk dan kemasan sekunder. .

Bisa saja, proses maklon kosmetik hanya pada proses pengemasan. Misalnya maklon kosmetik pada produk import. Biasanya hanya pada proses packaging/kemasan kosmetik yang harus menyesuaikan dengan aturan dari Badan POM. 

Bahkan kita bisa menentukan dititik/ di proses mana kita siap melakukan maklon kosmetik. Bisa memang dari awal produksi. Misalnya maklon krim wajah, dimulai dari pengembangan, produksi krim sampai ke kemasan sekunder (kotak) dilakukan di Pabrik A. Atau bisa juga, menggunakan jasa dua pabrik sekaligus. Misalnya di Pabrik A, kawan memesan krim dalam bulk sekian liter, lalu lotion tersebut dikirim ke pabrik B, untuk lakukan pengemasan primer dan sekunder (maklon kemasan/packaging). 

Yes! its up to us. Bisa the whole process, bisa parsial aja.

Oiya, untuk produksi maklon pun, tidak selalu karena produsen brand kosmetik nya tidak memiliki pabrik.  Misalnya Brand W dengan produk lipmatte kosmetiknya sedang naik daun, sehingga permintaan pasar meningkat sampai 50%, padahal kapasitas produksi di pabriknya terbatas. Sehingga, ketimbang kehilangan pasar, lebih baik sebagai di maklon kan ke pabrik kosmetik lain agar permintaan pasar dapat terpenuhi.

So, tertarik untuk meramaikan industri kosmetik tanah air?

Samarinda, September 2018.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
www.ericstrins.com . Powered by Blogger.