Where Will You Stay ? # 25 Pengalaman Menginap di Hotel Swiss Bell-Inn Balikpapan


“ There must be, uncomfort feeling, awkward moment when you wake up in the morning, on different bed, as usual. Feel different smell of the air that you take.”
But  I always miss that feeling, sometimes trying to repeat once, and once more

Hotel Swiss Bell-Inn Balikpapan

Saya sudah lama sekali tak menulis pengalaman menginap di hotel. Ya bukan gak mau menulis sih, cuma emang sudah lama juga gak menginap di hotel :p. 

Well, ini pengalaman terakhir menginap di hotel. Sudah agak malas memotret sudut-sudut hotel. Tapi ya sayang juga, seri pengalaman menginap di penginapan ini sudah lumayan banyak. Setidaknya sebagai dokumentasi pribadi. 



review hotel swiss bell-inn balikpapan kalimantan timur, budget, penginapan, balikpapan, murah, swiss bel
Foto ala kadarnya di sudut kamar

Ceritanya balik dari mudik lebaran, mampir Balikpapan dulu untuk jalan-jalan sebelum pulang ke Samarinda.  Syarat hotel yang saya pilih standard saja. Dekat pusat kota, welknown, sesuai budget.  Utak-atik berbagai situs pemesanan online untuk tanggal yang sama, ketemu Swiss Bell-inn dari Misteraladin.com.  Harganya dibawa 300K, padahal untuk kamar yang sama disitus lain diatas 350K. Hotelnya di tengah kota banget. Good place, Well known hotel, review orang-orang juga memuaskan. 

Overall sih oke. Staff ramah dan sangat heplful.  Kamar meskipun kecil tapi lengkap. Ada lemari kecil tanpa pintu di pojok kamar, ada kabin untuk menaruh koper, sandal hotel, kamar mandi luas, toilettries lengkap untuk standard hotel budget, ada kulkas kecil dengan mini bar, dan  ada sofa empuk banget, (hotel budget lebih sering menyediakan kursi minimal yang keras). 

review menginap di hotel swiss bell-inn balikpapan
Amni enjoy her first experience

Ketika Anak Mogok Meyusu (Nursing Strike)


Anak saya bisa dibilang gak rewel dan gak cengeng. Tapi  tipikal yang kaku. Sekarang udah umur 7 bulan. Gak mau minum susu dengan botol,  gak mau minum susu formula, gak mau minum ASIP biarpun hanya menggunakan sendok. Cuma mau minum susu fresh from the oven, alis menyusu langsung dari ibunya. Bahkan, anak saya sempat mengalami bingung puting di usia 4-karena dipaksa minum susu dari botol sementara saya bekerja. 

Nah ceritanya 2 hari ini, anak saya Amni saya cuekin. Dibiarin melantai (main di lantai), sementara emaknya sibuk pindahan rumah dan beres-beres barang.  Awalnya saya gak nyadar, saya pikir barangkali Amni nya lagi seneng-senengnya main.  Sampai benar-benar kelelahan, nenen sebentar, lalu tertidur. Hari kedua, saya masih biarkan melantai. Agak sore, saya mulai curiga. Amni gak mau nenen, dan gak tidur siang. Nenen sih sedikit, dan anaknya makin rewel.  

Saya sampai curiga jangan-jangan anak saya diganggu ‘jin’ dirumah baru. Maklum kan baru pindah rumah.  Sampai saya kasih air yang sudah dibacakan yasiin. Malamnya saking ngantuknya, baru anak mau nyusu dikit dan tidur dan masih gak mau susu kanan. Besoknya, jumat pagi sampai siang saya masih sibuk beres-beres, makannya masih lahap. Tapi tetap gak mau tidur dan gak mau nenen. Kalaupun nenen, Cuma sedikit dan Amni gak mau sambil memandang wajah saya.  Mau lapor suami lagi, nanti malah tambah panik. Akhirnya, saya coba searching di internet. Pasti ada istilah medis dan penyebab yang lebih rasional mengapa anak tiba-tiba mogok menyusu, tentu saja diluar alasan diganggu jin.

Benar. Saya baru tahu ada istilah nursing strike atau mogok menyusu. Berbeda dengan bingung puting, nursing strike ini terjadi begitu saja, pada bayi yang normal menyusu langsung pada ibunya dan tiba-tiba saja tidak mau menyusu. Ada banyak penyebab bayi mogok menyusu, salah satu nya bayi mengalami perubahan lingkungan atau rutinitas, dan pada kasus saya barangkali anak saya kaget karena pindahan rumah.

Lalu bagaimana cara mengatasi mogok menyusu (nursing strike)?

Tidak ada algoritma pasti untuk mengatasi anak yang mogok menyusu.  Ada banyak saran. Ibu bisa mencoba Trial and error.  Mencoba satu persatu sesuai insting agar anak mau menyusu kembali. Ada yang menyarankan skin to skin, menunggu bayi mengantuk, menggendong-gendong bayi, dsb.

Saya lalu nyimpulkan bahwa untuk mengatasi mgok menyusu, intinya adalah connected lagi ke bayi,  berkomunikasi dengan si bayi bahwa everything is okay, Ibu akan melindungi anak menghadapi perubahan yang terjadi.
Pada kasus saya, karena sudah 2 hari Amni mogok menyusu, makan langkah pertama yang saya ambil adalah berhenti beres-beres rumah.  Kembali fokus ke anak. Saya coba skin to skin. Namun Amni masih belum mau menyusu. Tak habis akal. Akhirnya saya gendong anak kemananpun saya melangkah, hampir sejam lebih. Sudah dua hari ini memang saya biarkan Amni melantai terus, cuma saya susui sambil berbaring hingga tertidur.

Oh ternyata anak saya ingin dimanja. Capek digendong ke sana kemari, saya baringkan kembali dan kali ini saya tawari anak saya untuk menyusu, dan anak saya langsung mau menyusu, meski cuma menghisap sebentar-sebentar dan sesekali memandangi wajah emaknya.  Tak berapa lama, Amni tertidur. Bangun tidur, saya tawari nenen lagi, anak sudah tak menolak lagi tapi masih menghisap sebentar-sebentar dan tidak lahap. Barangkali masih ngambek, barangkali masih kenyang. But I Know, usaha saya sudah mulai membuahkan hasil.  Sengaja saya lewatkan sesi makan sore agar anak saya lapar dan haus sehingga nanti ketika menyusu bisa lahap. 

Saya ajak ngobrol anak, ajak becandaan, dan bermain-main. Sudah dua hari ini memang saya melewatkan bermain bersama Amni. Tak lama, saya tawari puting pelan-pelan. Dan ajaib, Amni mulai menghisap lagi, pertama pelan-pelan, dan selanjutnya lahap. Alhamdulillah. Saya bisa mengatasi anak tiba-tiba mogok menyusui. Dan ternyata bukan karena jin. Tapi karena anak hanya ingin diperhatikan ibunya. Alasan sederhana yang kadang kita sebagai orangtua sering terlupa. 

Menyusui dan disusui itu  menurut saya sepaket loh. Sama-sama saling membutuhkan.



ketika anak nursing strike atau mogok menyusu
Anak tidur nyenyak, emak pun ikut tidur nyenyak :)

Alhamdulillah. Malam itu Amni tertidur nyenyak, emaknya pun tertidur nyenyak dengan perasaan lega.




Samarinda, Agustus 2016.

Memulai Hidup Sederhana untuk Hidup yang Lebih Baik dan Bahagia


Tujuh Belas Agustus lalu saya memerdekakan diri dari perihal mengontrak rumah. Dan kemudian terjajah lima belas tahun oleh bunga bank. Hahahaha  *ketawa miris. 

Awal tahun 2015  lalu saya juga pindahan. Dari Jakarta ke Samarinda. Meski dulu hanya tinggal dalam sepetak kamar kecil. Pindahan tetap membawa kebingungan mengenai bagaimana cara membawa serta barang-barang ikut pindah pulau.  Motor saya jual. Dan ada begitu banyak barang pritilan, yang dijual gak laku, dibuang mubazir, dibawa ke Kalimantan gak sebanding dengan ongkosnya.  Akhirnya saya berikan kepada teman dan pemulung. 

Pindahan kali ini masih dalam satu kota, namun yang namanya pindahan, selain membawa gairah dan kecemasan karena akan berhadapan dengan lingkungan baru, tentu saja membawa kerepotan.
Setelah berumah tangga, yang usianya belum genap 2 tahun, yang saya (rasanya) jarang-jarang belanja barang, ternyata perlu berkali-kali bolak balik bawa barang. 

 Dari berkardus-kardus barang yang diangkut, kuota barang paling banyak masih di pakaian dan buku. Kalau buku wajar, karena saya dagang buku. Tapi kalau baju, rasa-rasanya sudah jarang banget belanja baju atau produk fashion. Tiap mau pergi-pergi, saya kebingungan milih baju yang mana.  Baju yang dipakai kok itu-itu aja? Saya adalah orang yang memikirkan mau pakai baju apa baru saya ambil di lemari, bukan orang yang melihat ke lemari kemudian mikir mau pakai baju apa.  Karena saya hanya mampu mengingat beberapa lembar pakaian saja. Maka dari 50 lembar pakaian yang ada di lemari, yang saya pakai dalam satu bulan paling hanya 20 lembar, yang dicuci-setrika pakai-cuci-setrika-pakai.

PIndahan cuma bertiga: saya, suami, dan anak yang berusia 7 bulan, mau gak mau porsi terbesar beres-beres dan bongkar-bongkar ada pada Si Emak.  Bongkar sana sini, ketemu lagi dengan barang-barang dijual gak laku, dibuang mubazir, digunakan udah gak pernah lagi. Sambil menahan nyeri sakit pinggang dan memandangi barang-barang yang berantakan luar biasa, saya jadi memikirkan untuk hidup lebih simpel. Toh dari 100% barang yang sama miliki, paling 40% yang digunakan sehari-hari, 30% digunakan pada saat tertentu, dan sisanya 30% hanya Tuhan yang tahu kapan saya gunakan lagi. 

Kalau kata sebuah quote “ you don’t need more space,  you just need to reduce the things”.  Kalau benar-benar memprioritaskan barang dari nilau guna dan urgensi keperluan,  pasti saya dan teman-teman semua  gak akan punya barang banyak hanya untuk sekedar bertahan hidup. Apalagi rumah baru saya hanya selebaran dapur rumah orangtua dulu.

pintu rumah KPR
Semoga kebaikan selalu menyertai tempat tinggal kami

Agenda minggu ini, saya akan mensortir lagi barang-barang yang bisa dilelang, dan mana barang yang bisa disedekahkan. Semakin sedikit barang yang kita miliki, rasanya memang semakin lega.  Ibarat perut yang sebah, kalau udah dikeluarin,  rasanya benar-benar lega.  Badan dan hidup terasa lebih enteng :)

Yuk mari hidup simple/sederhana/secukupnya. 
·       -   Kurangi barang yang sudah tidak digunakan. Bisa dijual lagi atau diberikan kepada orang lain
·   -  Beli barang yang  kira-kira memang dibutuhkan. Godaan belanja ini sih yang bikin barang terus menumpuk. Padahal kalau mau selektif berbelanja, kita bisa nabung lebih banyak loh.


Samarinda, Agustus 2016.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
www.ericstrins.com . Powered by Blogger.